Selasa, 25 Agustus 2009

Apa Yang Kita Sombongkan...?

Apa Yang Kita Sombongkan...?

Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat 
Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat 
lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan
keganjilan ini orang itu bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan?”

Sang Guru menjawab, “Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta 
nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka.

Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya 
merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena 
itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.”

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang 
benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari.

Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa
lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa 
lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering 
menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus 
dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita 
mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong 
karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena 
seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang 
lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan 
kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini 
berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan 
kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan 
kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam 
keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, 
kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan 
dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih 
banyak lagi.

Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego 
inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan 
kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. 
Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada duaperubahan 
paradigma
 yang perlu kita lakukan.

Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk 
fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, 
sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir 
dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.

Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam 
kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, 
label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah “tampak 
dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai 
kesombongan atau ilusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, 
semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.

Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan 
kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita 
dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada 
kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan 
batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita 
sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri.

Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?

Gbu_All
Semangat...




..I can't lie,I can't say i can feel what you feel,
but i'll always be here just to share your pain..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar